Search

PSYCHOLOGY & COMMUNICATION: SOFT-SKILLS IN AUDITING

Pendekatan audit yang modern mengharuskan auditor internal untuk menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berkomunikasi dan berhubungan dengan auditee. Auditor yang terlalu banyak menggunakan waktunya untuk “berhubungan” dengan dokumen dan arsip merupakan auditor masa lalu yang sudah pasti tidak akan pernah dapat mencapai kinerjanya secara efektif. Di samping itu, tidak seperti halnya auditor eksternal yang di satu sisi dalam penugasannya lebih banyak berhubungan dengan angka-angka di laporan keuangan, maka auditor internal di sisi lain lebih banyak berhubungan dengan individu-individu dalam penugasan auditnya. Tentunya, kondisi ini membuat pekerjaan dan penugasan auditor menjadi lebih dinamis. Banyak faktor-faktor yang secara psikologis mempengaruhi penugasan audit. Memahami dengan baik faktor-faktor psikologis dalam audit merupakan kunci sukses hubungan auditor & auditee/manajemen.

Agar dapat membina hubungan secara efektif, auditor masa kini harus dibekali dengan pemahaman mengenai mekanisme dan keterampilan komunikasi. Hubungan dan komunikasi yang tidak baik seringkali dapat menimbulkan kesalahpahaman, hambatan, dan kesulitan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Penguasaan terhadap keterampilan komunikasi dapat menghindarkan auditor dari kesulitan dan hambatan yang tidak perlu, namun menghabiskan waktu dan perhatian ini.

Auditor modern menggunakan keterampilan berkomunikasi dalam berbagai tahap audit. Dalam tahap perencanaan, auditor menggunakan keterampilan komunikasi untuk mendapatkan pemahaman terhadap auditee dan meng-assess risiko (prioritas). Dalam tahap pekerjaan lapangan (fieldwork), komunikasi bermanfaat untuk menjelaskan maksud audit dan mendapatkan komitmen auditee (pada entry meeting) dan untuk mendapatkan audit evidence. Dalam tahap pelaporan (reporting), teknik komunikasi dan presentasi bermanfaat untuk menyajikan, menjelaskan dan membahas hasil audit.